Jenis-Jenis Kamera
Kata photography berasal dari kata photo yang
berarti cahaya dan graph yang berarti gambar. Jadi photography bisa
diartikan menggambar/melukis dengan cahaya. Kamera film, sekarang juga
disebut dengan kamera analog oleh beberapa orang.
Format film
Sebelum kita melangkah ke jenis-jenis kamera film ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu berbagai macam format/ukuran film.
1.
APS, Advanced Photography System. Format kecil dengan ukuran film
16×24mm, dikemas dalam cartridge. Meski format ini tergolong baru, namun
tidak populer. Toko yang menjual film jenis ini susah dicari di
Indonesia.
2. Format 135. Dikenal juga dengan film 35mm. Mempunyai
ukuran 24×36mm, dikemas dalam bentuk cartridge berisi 20 atau 36 frame.
Format ini adalah format yang paling populer, banyak kita temui di
sekitar kita.
3. Medium format
4. Large format
Jenis Film
1. Film B/W, film negatif hitam putih.
2. Film negatif warna. Paling populer, sering kita pakai.
3.
Film positif, biasa juga disebut slide. Lebih mahal dan rawan
overexposure. Meski demikian warna-warna yang dihasilkan lebih bagus
karena dapat menangkap rentang kontras yang lebih luas.
Jenis-jenis kamera
1. Pocket/compact. Kamera saku. Populer bagi orang awam, sederhana dan mudah dioperasikan. Menggunakan film format 35mm.
2.
Rangefinder. Kamera pencari jarak. Kecil, sekilas mirip dengan kamera
saku. Bedanya, kamera ini mempunyai mekanisme fokusing (karenanya
disebut rangefinder). Umumnya menggunakan film format 35mm.
3. SLR,
Single Lens Reflex. Kamera refleks lensa tunggal. Populer di kalangan
profesional, amatir dan hobiis. Umumnya mempunyai lensa yang dapat
diganti. Menggunakan film format 35mm. Disebut juga kamera sistem.
4. TLR, Twin Lens Reflex. Kamera refleks lensa ganda. Biasanya menggunakan format medium.
5. Viewfinder. Biasanya menggunakan format medium.
Kamera
manual dan kamera otomatis. Kamera-kamera SLR terbaru umumnya sudah
dilengkapi sistem autofokus dan autoexposure namun masih dapat
dioperasikan secara manual.
Kamera digital. Menggunakan sensor digital sebagai pengganti film.
1.
Consumer. Kamera saku, murah, mudah pemakaiannya. Lensa tak dapat
diganti. Sebagian besar hanya punya mode full-otomatis. Just point and
shoot. Beberapa, seperti Canon seri A, memiliki mode manual.
2. Prosumer. Kamera SLR-like, harga menengah. Lensa tak dapat diganti. Shooting Mode manual dan auto.
3. DSLR. Digital SLR.
Lensa,
mata dari kamera, secara umum menentukan kualitas foto yang dihasilkan
lensa memiliki 2 properties penting yaitu panjang fokal dan aperture
maksimum.
Field of View (FOV) tiap lensa memiliki FOV yang lebarnya tergantung dari panjang fokalnya dan luas film/sensor yang digunakan.
Field
of View Crop, sering disebut secara salah kaprah dengan focal length
multiplier. Hampir semua kamera digital memiliki ukuran sensor yang
lebih kecil daripada film 35mm, maka pada field of view kamera digital
lebih kecil dari pada kamera 35mm. Misal lensa 50 mm pada Nikon D70
memiliki FOV yang sama dengan lensa 75mm pada kamera film 35mm (FOV crop
factor 1.5x)
Jenis-jenis Lensa
a. berdasarkan prime-vario
1.
Fixed focal/Prime, memiliki panjang fokal tetap, misal Fujinon 35mm
F/3.5 memiliki panjang fokal 35 mm. Lensa prime kurang fleksibel, namun
kualitasnya lebih tinggi daripada lensa zoom pada harga yang sama.
2.
Zoom/Vario, memiliki panjang fokal yang dapat diubah, misal Canon EF-S
18-55mm F/3.5-5.6 memiliki panjang fokal yang dapat diubah dari 18 mm
sampai 55 mm. Fleksibel karena panjang fokalnya yang dapat diatur.
b. berdasarkan panjang focal
1. Wide, lensa dengan FOV lebar, panjang fokal 35 mm atau kurang. Biasanya digunakan untuk memotret pemandangan dan gedung.
2. Normal, panjang fokal sekitar 50 mm. Lensa serbaguna, cepat dan harganya murah.
3. Tele, lensa dengan FOV sempit, panjang fokal 70mm atau lebih. Untuk memotret dari jarak jauh.
c. berdasarkan aperture maksimumnya.
1. Cepat, memiliki aperture maksimum yang lebar.
2. Lambat, memiliki aperture maksimum sempit.
d. lensa-lensa khusus
1. Lensa Makro, digunakan untuk memotret dari jarak dekat
2. Lensa Tilt and Shift, bisa dibengkokan.
Ketentuan
lensa lebar/tele (berdasarkan panjang focal) di atas berlaku untuk
kamera film 35mm. Lensa Nikkor 50 mm menjadi lensa normal pada kamera
film 35mm, tapi menjadi lensa tele jika digunakan pada kamera digital
Nikon D70. Pada Nikon D70 FOV Nikkor 50 mm setara dengan FOV lensa 75 mm
pada kamera film 35mm.
Peralatan bantu lain
Tripod, diperlukan
untuk pemotretan dengan kecepatan lambat. Pada kecepatan lambat,
menghindari goyangan kamera jika dipegang dengan tangan (handheld).
Secara umum kecepatan minimal handhel adalah 1/focal.
Membawa tripod
saat hunting bisa merepotkan. Untuk keperluan hunting biasanya tripod
yang dibawa adalah tripod yang ringan dan kecil.
Monopod, mirip tripod, kaki satu. Lebih mudah dibawa. Hanya dapat menghilangkan goyangan vertikal saja.
Flash/blitz/lampu kilat, untuk menerangai obyek dalam kondisi gelap.
Filter, untuk menyaring cahaya yang masuk. Ada banyak jenisnya.
- UV, menyaring cahaya UV agar tidak terjadi hazy pada foto2 landscape, sering digunakan untuk melindungi lensa dari debu.
-
PL/CPL (Polarizer/Circular Polarizar) untuk mengurangi bayangan pada
permukaan non logam. Bisa juga untuk menambah kontras langit.
Exposure, jumlah cahaya yang masuk ke kamera, tergantung dari aperture dan kecepatan.
-
Aperture/diafragma. Makin besar aperture makin banyak cahaya yang
masuk. Aperture dinyatakan dengan angka angka antara lain sebagai
berikut: f/1,4 f/2 f/3,5 f/5.6 f/8. semakin besar angkanya (f number),
aperture makin kecil aperturenya.
- Shutter speed/kecepatan rana. Makin cepat, makin sedikit cahaya yang masuk.
-
ISO, menyatakan sensitivitas sensor/film. Makin tinggi ISOnya maka
jumlah cahaya yang dibutuhkan makin sedikit. Film ISO 100 memerlukan
jumlah cahaya 2 kali film ISO 200.
Contoh: kombinasi diafragma f/5.6
kec. 1/500 pada ISO 100 setara dengan diafragma f/8 kec 1/500 atau f/5.6
kec. 1/1000 pada ISO 200.
Exposure meter, pengukur cahaya. Hampir
tiap kamera modern memiliki pengukur cahaya internal. Selain itu juga
tersedia pengukur cahaya eksternal.
Exposure metering (sering disingkat dengan metering saja), metode pengukuran cahaya
1. Average metering, mengukur cahaya rata-rata seluruh frame.
2. Center-weighted average metering, mengukur cahaya rata-rata dengan titik berat bagian tengah.
3.
Matrix/Evaluative metering, Mengukur cahaya di berbagai bagian dari
frame, untuk kemudian dikalkulasi dengan metode-metode otomatis
tertentu.
4. Spot metering, mengukur cahaya hanya pada bagian kecil di tengah frame saja.
Exposure
compensation, 18% grey. Exposure meter selalu mengukur cahaya dan
menhasilkan pengukuran sehingga terang foto yang dihasilkan berkisar
pada 18% grey. Jadi kalau kita membidik sebidang kain putih dan
menggunakan seting exposure sebagaimana yang ditunjukan oleh meter, maka
kain putih tersebut akan menjadi abu-abu dalam foto. Untuk mengatasi
hal tersebut kita harus melakukan exposure compensation. Exposure kita
tambah sehingga kain menjadi putih.
Under exposured, foto terlalu gelap karena kurang exposure.
Over exposured, foto terlalu terang karena kelebihan exposure
Istilah
stop. Naik 1 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 2 kali. Naik 2
stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 4 kali. Turun 1 stop exposure
diturunkan menjadi 1/2 kali. Turun 2 stop exposure diturunkan menjadi
1/4 kali.
Kenaikan 1 stop pada aperture sebagai berikut: f/22; f/16;
f/11; f/8; f/5,6; f/4; f/2,8; f/2. Beda f number tiap stop adalah 0,7
kali (1/Ö2).
Kenaikan 1 stop pada kec. Rana sebagai berikut: 1/2000;
1/1000; 1/500; 1/250; 1/125; 1/60; 1/30; 1/15; 1/8; 1/4; 1/2; 1. Beda
speed tiap stop adalah 2 kali.
DOF, Depth of Field, kedalaman medan. DOF adalah daerah tajam di sekitar fokus.
Kedalaman medan dipengaruhi oleh besar aperture, panjang fokal, dan jarak ke obyek.
1. Aperture, semakin besar aperture (f number makin kecil) maka DOF akan makin dangkal/sempit.
2. Panjang fokal (riil), semakin panjang fokal, DOF makin dangkal/sempit.
3. Jarak ke obyek, semakin dekat jarak ke obyek maka DOF makin dangkal/sempit.
Pemilihan DOF
-
Jika DOF sempit, FG dan BG akan blur. DOF sempit digunakan jika kita
ingin mengisolasi/menonjolkan obyek dari lingkungan sekitarnya misalnya
pada foto-foto portrait atau foto bunga.
- Jika DOF lebar, FG dan BG
tampak lebih tajam. DOF lebar digunakan jika kita menginginkan hampir
seluruh bagian pada foto nampak tajam, seperti pada foto landscape atau
foto jurnalistik.
Shooting mode
Mode auto, mode point and shoot, tinggal bidik dan jepret.
1. Full auto, kamera yang menentukan semua parameter.
2. Portrait, kamera menggunakan aperture terbesar untuk menyempitkan DOF.
3. Landscape, kamera menggunakan aperture terkecil.
4. Nightscene, menggunakan kecepatan lambat dan flash untuk menangkap obyek dan BG sekaligus.
5. Fast shuter speed
6. Slow shutter speed
Creative zone
1.
P, program AE. Mirip dengan mode auto dengan kontrol lebih. Dengan mode
ini kita bisa mengontrol exposure compensation, ISO, metering mode,
Auto/manual fokus, white balance, flash on/off, dan continues shooting.
2. Tv, shutter speed priority AE. Kita menetukan speed, kamera akan menghitung aperture yang tepat.
3. Av, aperture priority AE. Kita menentukan aperture, kamera mengatur speed.
4. M, manual exposure. Kita yang menentukan aperture dan speed secara manual.
Komposisi dan Angle
Komposisi adalah penempatan obyek dalam frame foto
Angle adalah sudut pemotretan, dari bawah, atas, atau sejajar.
Komposisi dan angle lebih menyangkut ke seni dari fotografi. Faktor selera fotografer sangat besar pengaruhnya.
Katagori DSLR :
1.
Nikon D300 menjadi DSLR favorit pertama saya dengan sensor CMOS 12 MP
dan segudang fitur baru seperti live-view dan weather sealed. D300
menjadi generasi Nikon pertama yang mengimplementasikan sistem anti debu
pada sensornya. Istimewanya, Nikon D300 dengan modul AF Multi-CAM
3500DX baru kini memiliki 51 titik fokus yang fleksibel (bisa contrast
detect dan phase detect). O ya, bagaimana dengan layar LCD 3 incinya
yang beresolusi 307 ribu piksel?
2. Canon EOS-40D menempati posisi
kedua kamera DSLR favorit saya dengan sensor CMOS 10.1 MP dan didukung
fitur andalannya seperti Digic III engine, Live view, dust reduction,
weatherproof, 9 points AF, 6.5 fps burst mode dan layar LCD 3 inci.
Katagori prosumer :
1.
Fuji Finepix S6000fd menjadi prosumer terakhir dari Fuji yang masih
memakai sensor SuperCCD yang menghasilkan gambar berkualitas meski pada
ISO tinggi. Ditambah dengan lensa wide 10,7x zoom (28-300mm) yang
zoomnya manual persis seperti lensa SLR, Fuji S6000fd menjadi favorit
pertama saya di katagori prosumer, meski produk lawas ini hanya memiliki
resolusi 6 MP.
2. Panasonic Lumix FZ18 beresolusi 8 MP sebagai
prosumer dengan lensa wide yang memiliki jangkauan 18 kali zoom optik
menjadi favorit saya di tempat kedua. Inilah zoom terpanjang yang pernah
ada pada kamera prosumer. Lumix FZ18 terpilih menjadi favorit saya
mengalahkan saingannya Olympus SP560 UZ dan Fuji S8000fd (yang juga
memiliki spesifikasi sama) berkat perpaduan antara lensa Leica dan fitur
yang lengkap.
3. Canon Powershot G9 dengan 12 MP dan 6x zoom optik
menjadi prosumer favorit ketiga saya berkat desainnya yang keren dan
fitur yang lengkap seperti stabilizer, RAW, flash hotshoe dan optical
viewfinder.
Katagori pocket standar :
1. Canon Powershot A650IS
menjadi kamera saku favorit pertama saya dengan resolusi 12 MP, image
stabilizer dan lensa dengan zoom optik 6x. Ditambah fitur manual yang
lengkap, layar LCD yang bisa diputar dan masih ada optical viewfinder.
2.
Fuji Finepix F50fd menempati posisi kedua dengan 12 MP. F50 kini telah
dilengkapi dengan stabilizer dan mode manual, dual memory card dan
tentunya yang menarik adalah sensornya yang memakai SuperCCD untuk
gambar lebih baik pada ISO tinggi. Perlu ISO 6400? Bisa…
3. Casio
Exilim Ex-V8 menempati posisi ketiga favorit saya berkat desain lensanya
yang unik. Kamera 8 MP ini memiliki lensa 7x zoom internal yang
bergerak di dalam kamera, plus dilengkapi stabilizer. Fitur fotografinya
lengkap, fitur video juga lengkap dan mampu merekam suara stereo.
Katagori pocket wide :
1.
Panasonic Lumix TZ3 dengan 7 MP yang menjadi kamera saku lensa wide
favorit pertama saya. Lensa Leica 10x zoom (28-280mm) dengan image
stabilizer menjadi alasan utamanya. Tidak mudah membuat kamera wide
dengan zoom 10x pada bodi yang kecil, dengan kemampuan besar.
2.
Ricoh Caplio R7 dengan 8 MP pantas diposisikan sebagai kamera wide
favorit kedua saya dengan lensa 7x zoom (28-200mm) yang juga dilengkapi
dengan image stabilizer.
3. Canon Powershot SD870 IS meski hanya
berlensa zoom 3x, namun mampu menempati posisi ketiga kamera wide
favorit saya berkat desainnya yang indah, sensor 8 MP, stabilizer, LCD 3
inci dan kemampuan ISO 1600.
Katagori value :
1. Canon Powershot
A570IS dengan resolusi 7 MP dan zoom optik 4x menjadi andalan pertama
saya di kelas kamera murah meriah. Kamera berharga 1,75 juta ini bahkan
sudah dilengkapi image stabilizer. Terdapat pilihan mode auto dan manual
serta masih terdapat fasilitas optical viewfinder.
2. Fuji Finepix
A800 menempati posisi kedua pilihan saya berkat resolusi 8 MP dengan
sensor andalannya SuperCCD yang biasanya dipasang di kamera Fuji kelas
atas. Inilah kamera murah yang mampu menghasilkan foto bagus pada
kondisi pemotretan tanpa lampu kilat berkat kemampuan ISO tinggi yang
bersih dari noise.
FLASH
Blitz atau flash diterjemahkan secara bebas menjadi lampu kilat. Ini
merupakan satu asesori yang sangat luas dipakai dalam dunia fotografi.
Fungsi Blitz adalah untuk meng-illuminate (menerangi) obyek yang kurang
cahaya agar terekspos dengan baik.
Tetapi belakangan penggunaannya
mulai meluas untuk menghasilkan foto-foto artistik. Bagaimanapun juga,
flash photography adalah satu hal yang perlu dipelajari.
Sebagian
besar dari pembaca tentunya sudah sering menggunakan flash dengan baik
dan mendapatkan hasil yang baik juga, tetapi tulisan ini akan membahas
dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan flash dengan
benar. Benar dalam artian secara teori dapat diterima dan benar dalam
artian menggunakan suatu dasar yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Aperture, Meter dan Shutter Speed
Fotografi
sering didefinisikan sebagai ilmu melukis dengan menggunakan cahaya.
Pada fotografi konvensional menggunakan film, kita ‘melukis’ dengan
cahaya pada lapisan film. Istilahnya adalah membakar secara permanen
film tersebut dengan menggunakan cahaya dengan intensitas tertentu. Lalu
bagaimana mendapatkan cahaya yang tepat?
Kita mengenal apa yang disebut lightmeter dalam dunia fotografi.
Lightmeter
ada yang built-in di dalam bodi kamera dan ada pula yang handheld. Yang
biasa kita gunakan adalah lightmeter built-in tersebut. Kita
menggunakan lightmeter untuk mengukur cahaya reflektif yang masuk ke
dalam lensa kita (kalau TTL) dan prosesor kamera akan menentukan apakah
sudah sesuai dengan jenis film yang terpasang dalam kamera kita.
Aperture merupakan lebarnya lubang yang dibuka oleh kamera untuk mengizinkan cahaya masuk.
Aperture
ini juga berkaitan dengan Depth of Field atau ruang tajam yang bisa
kita definisikan sebagai ruangan di depan dan belakang obyek yang masih
masuk dalam jangkauan focus. DoF ini sendiri dipengaruhi oleh 3 hal
yakni:
1. Penggunaan lensa dimana lensa tele akan memberikan DoF lebih sempit daripada lensa sudut lebar (wide angle).
2. Jarak obyek dimana obyek yang focus lebih jauh akan menyebabkan DoF juga semakin lebar
3. f/stop dimana f/ yang lebih besar akan memberikan DoF yang lebih lebar (semakin banyak daerah focus).
Shutter
speed adalah lamanya tirai rana dibuka untuk mengizinkan cahaya masuk.
Angka ini disimbolkan dengan satuan detik dan kenaikan/penurunan dalam
bentuk kelipatan ½. Contoh: 30s, 15s, 8s, 4s, 2s, 1s, 1/2s, 1/4s, 1/8s,
1/15s, 1/30s, 1/60s, 1/125s, 1/250s, 1/500s, 1/1000s, 1/2000s, 1/4000s,
dst. Semakin lambat maka cahaya yang masuk semakin banyak.
Blitz dan GN
Untuk
membagi/mengklasifikasikan blitz, ada beberapa klasifikasi yang dapat
digunakan. Yang pertama, berdasarkan ketersediaan dalam kamera maka
blitz dibagi menjadi built-in flash dan eksternal. Flash built-in
berasal dari kameranya sendiri sedangkan blitz eksternal adalah blitz
tambahan yang disambung menggunakan kabel atau hot shoe ke kamera.
Selain itu, kita juga dapat membaginya berdasarkan tipe/merk kamera.
Kita mengenal dedicated flash dan non-dedicated flash. Dedicated flash
adalah flash yang dibuat khusus untuk menggunakan fitur-fitur tertentu
dalam suatu kamera spesifik. Biasanya produsen kamera mengeluarkan blitz
yang spesifik juga untuk jajaran kameranya dan dapat menggunakan
fitur-fitur seperti TTL, slow sync atau rear sync, dll. Sedangkan blitz
non-dedicated memiliki fungsi-fungsi umum saja dari kebanyakan kamera
dan bisa digunakan terlepas dari tipe/merk kamera. Flash jenis inilah
yang biasanya membutuhkan banyak perhitungan karena flash yang sudah
dedicated sudah mendapat informasi pencahayaan dari kamera sehingga
tidak membutuhkan setting tambahan lagi. Ada juga flash yang kekuatan
outputnya (GN) bisa diatur dan ada juga yang tidak bisa (fixed GN). Kita
akan cenderung lebih banyak membicarakan tentang flash yang
non-dedicated, non-TTL, dan fixed GN.
Film SLRs vs. Prosumer Digital Camera vs. DSLRs
Satu
hal yang perlu diingat adalah bahwa kamera film dan kamera digital
berbeda. Di dalam kamera digital sendiri, ada perbedaan antara kamera
poket (dalam hal ini yang biasanya bisa menggunakan flash tambahan
adalah PDC/Prosumer Digital Camera)) dan Digital SLR (DSLR). Perbedaan
pertama tentu saja dalam hal perbandingan ukuran sensor/film dengan
lensa. Karena sensor kamera digital lebih kecil daripada film 35mm, maka
kita akan terjebak pada perbandingan panjang lensa yang berbeda. Untuk
mendapatkan suatu sudut yang sama misalnya 35mm, maka pada kamera dengan
sensor 1/1.8” akan menggunakan lensa sekitar 7.5mm, D100 akan
menggunakan lensa 24mm dan 10D akan menggunakan lensa 20mm. Inilah
panjang lensa efektif untuk mulai perhitungan menggunakan GN flash
tersebut.
Kedua, zooming. Pada PDC, zooming akan menyebabkan
perubahan f/stop menjadi lebih lambat (angka besar) dan demikian juga
dengan pemakaian zoom konsumer pada SLR/DSLR. Sebagai contoh, kita
mengenal lensa 35-70 f/3.3-f.5. Artinya, bukaan terbesar pada 35mm
adalah f/3.3 dan bukaan terbesar pada 70mm adalah f/4.5. Ini tentunya
akan berpengaruh pada obyek yang ingin difoto.
Penggunaan zoom pada
kamera biasanya dibarengi dengan penggunaan zoom head pada flash. Lensa
tele/zoom akan mempersempit sudut cakupan lensa dan zoom head pada flash
akan mempersempit dispersi cahaya flash itu yang dengan kata lain
menambah intensitasnya sehingga bisa menjangkau lebih jauh. Zoom head
pada posisi tele dan lensa pada posisi wide akan menyebabkan ada bagian
foto yang tidak mendapat cahaya atau kita kenal dengan istilah vignet.
Zoom head pada posisi wide dan lensa pada posisi tele akan menyebabkan
cahaya flash tidak bisa menjangkau obyek yang jauh (after all, ini
gunanya lensa tele kan? Untuk memotret obyek yang jauh?). Selain itu ini
juga yang akan terjadi jika lensa 35mm kita pasangkan pada DSLR
kemudian kita melakukan penghitungan flash tetap dengan menggunakan
perhitungan untuk SLR biasa karena sudutnya sebenarnya sudah setara 50mm
atau lebih (tergantung faktor pengalinya). Sebenarnya tidak ada masalah
berarti yang muncul, tetapi kita ‘menghamburkan’ cahaya tersebut secara
sia-sia saja.
Indoor Flash
Blitz sering bahkan hampir selalu digunakan di dalam ruangan.
beberapa hal perlu kita perhatikan agar mendapatkan hasil maksimal.
1.
Jangan memotret obyek yang terlalu dekat dengan blitz yang dihadapkan
tegak lurus. Ambil contoh dengan blitz GN 20 yang menurut saya cukup
memadai sebagai blitz eksternal bagi kamera digital dalam pemotretan
indoor dalam ruangan (bukan aula). Jika kita ingin memotret sebutlah
orang pada jarak 2 meter dengan ISO/ASA 200 maka kita membutuhkan f/16
yang tidak tersedia pada sebagian besar PDC dan akan menghasilkan gambar
yang over. Karena itu, untuk PDC/DSLR biasanya sudah terdapat flash
built-in yang TTL dan memiliki GN agak kecil (8-12 pada sebagian PDC,
12-14 pada DSLR). Gunakan itu daripada flash eksternal untuk obyek yang
agak dekat.
2. Kombinasikan flash dengan slow shutter speed untuk
mendapatkan obyek utama tercahayai dengan baik dan latar belakang yang
memiliki sumber cahaya juga tertangkap dengan baik. Ini adalah suatu
teknik yang patut dicoba dan seringkali menghasilkan gambar yang indah.
Jangan takut menggunakan speed rendah karena obyek yang sudah dikenai
flash akan terekam beku (freeze).
3. Bila ruangan agak gelap,
waspadai terjadinya efek mata merah/red eye effect. Efek mata merah ini
terjadi karena pupil mata yang membesar untuk membiasakan diri dengan
cahaya yang agak gelap tetapi tiba-tiba dikejutkan cahaya yang sangat
terang dari flash. Jika kamera dan/atau flash terdapat fasilitas
pre-flash/red eye reduction, gunakan hal ini. Jika tidak, akali dengan
mengubah sudut datangnya cahaya flash agar tidak langsung mengenai mata.
4. Dalam ruangan pun ada sumber cahaya yang kuat seperti
spotlight. Hindari memotret dengan menghadap langsung ke sumber cahaya
kuat tersebut kecuali ingin mendapatkan siluet yang tidak sempurna
(kompensasi under 1 – 2 stop untuk siluet yang baik). Dalam kondisi
demikian, gunakan flash untuk fill in/menerangi obyek yang ingin
dipotret tersebut.
Bounce/Diffuse
Flash adalah sumber cahaya
yang sangat kuat. Karenanya, bila cahaya ini dihadapkan langsung pada
suatu obyek akan menyebabkan penerangan yang kasar (harsh). Dalam
sebagian besar foto dokumentasi konsumsi pribadi dimana petugas
dokumentasi menggunakan kamera point & shoot (film/digital) ini bisa
diterima, alur keras cahaya akan memberi efek yang kurang sedap
dipandang. Ditambah lagi biasanya ini akan menyebabkan cahaya flash
memutihkan benda yang sudah agak putih dan menyebabkan detail-detail
tertentu lenyap.
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini:
1. Memperluas bidang datang cahaya yaitu dengan memantulkannya ke bidang lain (bounce).
2. Menyebarkan cahaya yang datang dari sumber kecil tersebut sehingga meluas (diffuse).
Bounce
flash dilakukan dengan cara memantulkan flash ke satu bidang yang luas
sehingga cahaya datang dalam sudut yang lebih luas.
Beberapa hal perlu kita perhatikan dalam memanfaatkan bounce flash ini adalah:
1.
Jarak untuk menghitung f/stop berubah bukan menjadi jarak kamera dan
obyek tetapi berubah menjadi jarak yang dilalui oleh cahaya flash
tersebut. Normalnya pada sudut tilt 45° kita akan melebarkan aperture 1
stop dan pada sudut tilt 90° kita melebarkan aperture sebesar 2 stop.
Tentunya ini hanya panduan ringkas. Pada pelaksanaan tergantung teknis
di lapangan.
2. Berkaitan dengan no. 1 di atas, maka jarak langit-langit/dinding tidak boleh terlalu jauh atau akan jadi percuma.
3.
Gunakan selalu bidang pantul berwarna putih dan tidak gelap. Warna
selain putih akan menyebabkan foto terkontaminasi warna tersebut
sedangkan warna gelap akan menyerap cahaya flash tersebut.
4.
Perhatikan bisa terjadi kemunculan bayangan pada sisi lain cahaya.
Misalnya jika kita memantulkan ke langit-langit maka kita akan
mendapatkan bayangan di bawah hidung atau dagu dan jika kita memantulkan
ke dinding di kiri maka akan ada bayangan di sebelah kanan. Untuk
mengatasinya kita dapat menyelipkan sebuah bounce card di bagian depan
flash tersebut sehingga ketika kita memantulkan cahaya ke atas/samping
kita tetap memiliki cahaya yang tidak terlalu kuat yang mengarah ke
depan dan menetralisir bayangan yang muncul.
Outdoor Flash
Flash sangat dibutuhkan pada pemotretan outdoor, terutama pada:
1.
Kondisi obyek membelakangi matahari. Pada kondisi seperti ini, meter
kamera akan mengira suasana sudah cukup terang sehingga akan menyebabkan
obyek yang difoto tersebut gelap/under karena cahaya kuat tersebut
percuma karena tidak direfleksikan oleh obyek. Cara mengakalinya adalah
dengan melakukan fill in pada obyek sehingga walaupun latar sangat
terang tetapi obyek tetap mendapat cahaya.
2. Matahari berada di
atas langit. Ini akan mengakibatkan muncul bayangan pada bawah hidung
dan dagu. Gunakan flash untuk menghilangkannya. Untuk melembutkan
cahayanya gunakan bounce card atau diffuser.
3. Obyek berada pada
open shade (bayangan). Flash digunakan untuk mendapatkan pencahayaan
yang sama pada keseluruhan obyek karena bayangan akan membuat gradasi
gelap yang berbeda-beda pada bagian-bagian obyek apalagi wajah manusia.
4.
Langit sangat biru dan menggoda. Jika kita tidak tergoda oleh birunya
langit dan rela mendapat foto langit putih ketika memotret outdoor maka
silahkan lakukan metering pada obyek tanpa menggunakan flash atau dengan
flash. Jika kita rela obyek kekurangan cahaya asalkan langit biru
silahkan lakukan metering pada langit. Nah, jika kita ingin langit tetap
biru sekaligus obyek tercahayai dengan baik, gunakan metering pada
langit dan fill flash pada obyek. Ini akan menghasilkan perpaduan yang
tepat dan pas.
5. Langit mendung. Ketika langit mendung, jangan
segan-segan gunakan flash karena efek yang ditimbulkan awan mendung akan
sama seperti jika kita berada di bawah bayangan.